Jika kamu ingin menjadi orang yang lebih, lakukanlah sesuatu.

meskipun kita berpikiran tak mampu untuk menggapainya…

kenapa kita tidak mencoba??

setiap orang berhak sukses dalam hidupnya….

lebih baik melakukan sesuatu dan mencoba daripada hanya menunggu kapan datangnya kesuksesan…..

Pesanku untuk sahabat HIMASITA IPB

Selamat kepada Dr. Ir. Dadang, M.Sc yang telah terpilih sebagai Dosen berprestasi Nasional 2010, kami selaku civitas akademika Departemen Proteksi Tanaman-Fakultas pertanian-Institut Pertanian Bogor, turut bangga atas prestasi tersebut. Semoga ke depan semakin lebih baik dan lebih berprestasi. amin….

“KOMPETISI PEMBENTUKAN SUKROSA ATAU PATI YANG DARI GLYCERALDEHIDE 3-PHOSPHATE”

Reaksi karboksilasi berlangsung dengan relatif sangat menurunkan energi bebas, yang menyebabkan reaksi irreversibel pada konsentrasi CO2 yang rendah. Setelah fase karboksilasi diikuti fase reduksi. Pada aktivitas ini melibatkan enzim fosfogliserate kinase dan gliseraldehide 3 fosfat dehidrogenase dan dibutuhkan ATP dan NADPH, 3 fosfo gliserat mengalami fosforilasi membentuk 1,3 difosfogliserate dan kemudian direduksi ke gliseraldehide fosfat. Selanjutnya merupakan rangkaian reaksi fase regenerasi yang melibatkan enzim aldolase, tranketolase, fosfatase, isomerase, epimerase dan kinase menghasilkan molekul aseptor ribulosa 1,5 bifosfat. Setelah fiksasi CO2, satu molekul hexosa atau 2 molekul fosfotriosa meneruskan siklus ini dan untuk memperoleh hasil bersih yang di dapat dari reduksi karbon dalam siklus ini. Untuk setiap molekul CO2 yang diasimilasi maka dikonsumsi 3 molekul ATP dan 2 NADPH dalam siklus ini sehingga untuk 6CO2 untuk menghasilkan satu molekul glukosa memerlukan masukan energi 18 ATP dan 12 NADPH. Hidrolisis 18 mole ATP ke ADP membebaskan energi sekitar 18 x -7,3 kcal = -131 kcal. Hal yang serupa adalah oksidasi 12 molekul NADPH ke NADP+ menghasilkan energi bebas 12 x -52,5 kcal = -630 kcal, sehingga total energi yang digunakan untuk menghasilkan 1 mole glukosa dari 6 mole CO2 dan 6 mole H2O ialah -761 kcal. Bila dibandingkan dengan energi yang dibebaskan dari oksidasi sempurna 1 mole glukosa menjadi CO2 dan air adalah 668 kcal/mol atau setara dengan 90% energi yang dibebaskan dari ATP dan NADPH selama siklus Benson-Calvin untuk memproduksi gula. Efisiensinya lebih rendah bila dibandingkan antara jumlah energi yang disimpan dalam glukosa dengan input energi cahaya untuk sintesisnya.
Jumlah minimum kebutuhan foton untuk fiksasi satu molekul CO2 adalah 8 (4 untuk setiap fotosistem), sehingga asimilasi 6 mole CO2 untuk pembentukan 1 mole glukosa memerlukan energi 48 mole foton. Dalam hal ini foton sinar merah mengandung energi 48 x 42 kcal = 2016 kcal, dari ini hanya sekitar 33% sebagai energi yang dikandung oleh molekul glukosa. Bila tanaman disinari dengan sinar biru, energi yang hilang akan lebih besar dan efisiensi fotosintesisnya hanya mencapai sekitar 20%. Hasil fiksasi CO2 yang dieksport dari kloroplas ke sitoplasma dalam bentuk triosa fosfat, lewat sistem karier translokator fosfat, dimana setiap satu triosa fosfat dari kloroplas ke sitoplasma ditukar dengan satu molekul fosfst anorganik yang ditransport dari sitoplasma ke kloroplas. Selanjutnya triose fosfat yang dieksport dari kloroplas ke sitosol, sebagian dimanfaatkan untuk sintesis sukrose. Sintesis sukrose di sitosol ini mengkonsumsi empat triose P.

Rangkaian sintesis sukrose dari triosa-P di sitosol sel fotosintetik. Reaksi ini mengkonsumsi empat molekul triosa fosfat dan satu UTP dengan hasil bersih empat Pi dan satu sukrosa. Enzim yang terlibat : (1) triosa-P isomerase, (2) aldolase, (3) fruktosa 1.6 P2 fosfatase, (4) heksosa-P isomerase, (5) glukosa-P mutase, (6) UDP glukosa PP ase, (7) sukrosa-P sintetase, (8) sukrosa-P fosfatase. Triosa-P yang diimport dari kloroplas lewat fosfat translokator ditukar dengan Pi dengan jumlah yang setara.

Awal dari proses ini melibatkan dua molekul fruktosa-6P yang identik dengan dikloroplas, sedang di sitosol secara aldolase dan melibatkan FP2-Pase (Fruktosa 1.6 bifosfat fosfatase). Satu molekul fruktosa-6P mengalami isomerasi oleh enzim heksosa-P isomerase dan enzim glukosa-P mutase menghasilkan glukosa-1P. Glukosa-1P dipersiapkan untuk bergabung dengan fruktosa-6P oleh suatu reakasi yang menghasilkan UTP. Sintesis sukrosa ini melibatkan enzim UDP-glukosa pirofosforilase di sitosol.

Sementara itu triose-P di dalam kloroplas dimanfaatkan untuk sintesis pati lewat ADP-glukosa. Sebagian besar triose-P dieksport ke sitosol untuk sintesis sucrose tetapi beberapa lagi digunakan untuk sintesis pati (starch) dalam kloroplas. Jumlah relatif yang diteruskan untuk sintesis sucrose dan pati sangat berbeda. Pada beberapa spesies (tembakau) pati di daun dalam jumlah yang besar, tetapi pada tanaman lain tidak. Normalnya sedikit triose-P yang langsung untuk sintesis pati untuk beberapa jam setelah matahari terbit, tetapi proporsi ini meningkat sepanjang hari di mana sintesis sukrosa menurun.
Pada tanaman yang mengalami defisiensi unsur tertentu mengakumulasi pati, dan ini agaknya untuk menghalangi sintesis sukrosa di sitosol atau menurunkan kebutuhan karbohidrat dalam sel. Akumulasi pati di daun adalah route sekunder dari metabolisme P. Umumnya nampak nyata bila kecepatan asimilasi CO2 melebihi produksi dan eksport sukrosa. Urutan sintesis pati dari triose fosfat dikloroplas dapat digambarkan sebagai berikut: Dua molekul triose-P akan mengalami aldolasi oleh enzim aldolase membentuk satu molekul Fruktose 1.6 bifosfat yang kemudian oleh enzim fructose 1.6 P2 fosfatase dalam kloroplas dikalalisis menghasilkan Fruktose-6P dan selanjutnya dengan enzim heksosa P isomerase dan glucose P mutase diubah menjadi glucose 1P. Hal penting ialah bahwa glukosa-P kemudian diaktivasi oleh ATP (bukan UTP) dengan adanya enzim ADP glukose pirofosforilase,enzim spesifik di kloroplas menghasilkan ADP glukose dan pirofosfat (Ppi). Terakhir dengan pemanjangan oligomer glukose oleh penambahan satu molekul glukose pada 4) dan eliminasi ADP dan seterusnya untuk menghasilkan pati.® (1aikatan  Pati inipun lebih lanjut dapat dimetabolismekan untuk menghasilkan sucrose di sitosol bila kebutuhan karbon di sitosol melebihi kecepatan asimilasi karbon dioksida.Glikolisis (dari glycose, istilah yang lebih tua untuk glukosa +-lisis degradasi) adalah yang mengubah jalur metabolisme glukosa, C6H12O6, menjadi piruvat, CH3COCOO-+ H +. Energi bebas dilepaskan dalam proses ini digunakan untuk membentuk senyawa energi tinggi, ATP (adenosin trifosfat) dan NADH (dikurangi nikotinamid adenin dinukleotida).



DISEASE NOTEBOOK
ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

PENYAKIT PENTING
TANAMAN KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus)

Oleh :
Siti Syarah Maesyaroh A34080010
Syaiful Khoiri A34080069

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M. Sc
Dr. Ir. Widodo, M. Si

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kacang hijau merupakan salah satu bahan makanan yang dimakan rakyat Indonesia pada umumnya. Kecambah dari kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Di Indonesia dikenal sebagai tauge. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue-kue dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mie yang dikenal sebagai soun.
Kacang hijau dibawa masuk ke wilayah Indonesia terjadi pada awal abad ke-17 oleh pedagang China dan Portugis. Pusat penyebaran kacang hijau pada mulanya terpusat di Pulau Jawa dan Bali, tetapi pada tahun 1920-an, mulai berkembang di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan Indonesia bagian Timur.
Kacang hijau telah menyebar di Asia Timur ini berguna sejak kacang mulai tumbuh, bagian kulit yang telanjang, atau sebagai bahan makanan dalam makanan oriental. Keadaan agroekologi Indonesia amat cocok untuk pengembangan budidaya tanaman kacang hijau. Pada masa mendatang, kemungkinan penyebaran kacang hijau meluas ke semua provinsi di wilayah nusantara. Peningkatan produksi kacang hijau nasional diramalkan sebesar 7.6% per tahun dari tahun 1987 hingga tahun 2000 sehingga pada akhir abad ini produksi kacang hijau di Indonesia diharapkan mencapai 623.000 ton.
Pulau Jawa merupakan penghasil utama kacang hijau di Indonesia, karena memberikan konstribusi 61% terhadap produksi kacang hijau nasional. Total kontribusi daerah tersebut adalah 90% terhadap produksi kacang hijau nasional, dan 70% berasal dari lahan sawah. Potensi lahan kering di daerah tersebut yang sesuai ditanam kacang hiaju sangat luas. Tantangan pengembangan kacang hijau di lahan kering adalah peningkatan produktivitas dan mempertahankan kualitas lahan untuk berproduksi lebih lanjut. Produksi tahunan diperkirakan 2,5-3 juta ton sekitar 5 juta hektar areal produksi. Produksi ini kira-kira 5% dari produksi seluruh kacang bijian.
Kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Papilionaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiata atau Phaseolus radiatus
Secara morfologi, tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu.
Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua.
Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri.
Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan dan setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji. Biji kacang hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam . Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan.
Tanaman kacang hijau masih kurang mendapat perhatian petani, meskipun hasil tanaman ini mempunyai nilai gizi yang tinggi dan harga yang baik. Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lain, kacang hijau memiliki kelebihan ditinjau dari segi agronomi maupun ekonomis seperti : lebih tahan kekeringan, serangan hama penyakit lebih sedikit, dapat dipanen pada umur 55-60 hari, dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, dan cara budidayanya mudah. Dengan demikian, kacang hijau mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Untuk mempercepat perkembangan, ketersediaan benih yang memadai dari varietas unggul yang sudah dilepas merupakan kunci keberhasiIan
Serangan penyakit pada kacang hijau sering menimbulkan kerugian bagi para petani, diantara penyakit – penyakit kacang hijau yang sering menyerang adalah penyakit busuk batang Sclerotium, penyakit kudis, penyakit embun tepung, dan penyakit mosaik kuning. Untuk melindungi tanaman agar tidak terserang penyakit tersebut, petani harus mengenal gejala serangan, jenis patogen, siklus hidup, dan cara penyebaran serta cara pengendaliannya.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan disease notebook ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis penyakit yang menyerang tanaman kacang hijau diantaranya penyakit busuk batang Sclerotium, penyakit kudis, penyakit embun tepung, dan penyakit mosaik kuning. Selain itu, untuk mengetahui gejala, daur hidup, penyebaran dan pengendalian penyakit tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

Penyakit mempunyai ciri khusus yang berbeda dari yang lain, misalnya patogen penyebab, struktur morfologi patogen, siklus penyakit, penyebaran patogen, gejala yang ditimbulkan, serta cara pengendaliannya, diantaranya sebagai berikut :

1. Nama penyakit : Penyakit Busuk Batang Sclerotium
Patogen : Sclerotium rolfsii (Deuteromycota). Imperfect stage Struktur patogen : Sklerotium bulat, licin, berwarna agak kuning
Gejala
Pangkal batang kacang hijau sering terserang oleh jamur Sclerotium rolfsii. Tanaman yang terserang Sclerotium rolfsii akan menimbulkan gejala layu mendadak. Pada pangkal batang dan di permukaan tanah sekelilingnya terdapat benang-benang miselium seperti bulu, membentuk banyak sklerotium yang semula berwarna putih, kemudian menjadi berwarna coklat, sebesar biji sawi.
Selain batang, jamur dapat menginfeksi daun-daun bawah, yang dimulai dari pangkal anak daun. Pangkal anak daun berwarna hijau kelabu kebasah-basahan.

Daur Hidup
Cendawan ini merupakan cendawan imperfect kelompok Deuteromycetes, hanya mempunyai fase anamorf. Struktur anamorfnya berupa sklerotium yang berbentuk bulat, licin, dan berwarna agak kuning. Siklus patogen ini mempunyai dua bentuk. Pada fase anamorf berbentuk Sclerotium sedangkan fase teliomorfnya yaitu Aethalia.
Keterangan eko-biologinya, patogen ini bersifat polifag, dapat hidup sebagai saprofitis di dalam tanah yang agak basah, sifat serangannya epidemik berbunga tunggal “single interest disease”.

Pengendalian
Pengendalian penyakit ini terdapat beberapa cara yang telah diaplikasikan, diantaranya, yaitu: menanam varietas unggul yang resisten, sistem rotasi tanam antara palawija dengan tanaman lainnya seperti padi akan menghambat dalam kelangsungan hidup sclerotia dapat dikurangi dengan tanah yang diairi. Siklus penyakit juga dapat rusak dengan tanaman yang toleran atau resisten.
Melakukan desinfeksi atau mensterilkan tanah dengan uap panas atau dengan menggunakan zat kimia khusus, dan juga dengan meniadakan kontaminan pada biji-biji dengan perlakuan biji (seed treatment) dengan beberapa zat kimia. Perlakuan kimia pada saat tanam dengan menambah fungisida saat penanaman benih.
Pengendalian secara biologi juga dapat diterapkan dalam mengendalikan Sclerotium rolfsii, salah satu pengendalian secara biologi yang telah dilakukan yakni menggunakan Trichoderma glaucum sebagai cendawan antagonis yang efektif untuk mengendalikan Sclerotium rolfsii penyebab penyakit busuk batang pada kacang hijau.
Pemindahan puing tanaman yang terinfeksi adalah penting karena hal ini dapat berfungsi sebagai inokulum bagi tanaman berikutnya. Penyebaran penyakit propagules juga harus dibatasi, dalam bentuk hifa atau sclerotia dalam tanah atau pada sampah.
Penggalian tanah dan pengolahan yang lebih dalam akan menguburkan bahan tanaman yang terinfeksi dan sclerotia sehingga tanaman berikutnya tidak mudah bersentuhan dengan penyebab/sumber penyakit yang tertanam di dalam tanah, namun peralatan budidaya dapat membantu dalam penyebaran patogen ke daerah yang sebelumnya tidak terinfeksi. Pengapuran untuk meningkatkan pH menjadi sekitar 7,0 juga dapat membantu dalam pengendalian Sclerotium rolfsii. Fallowing biasanya tidak langkah kontrol yang efektif sebagai gulma banyak juga host penyakit ini.

2. Nama penyakit : Penyakit Kudis (Scab)
Patogen : Elsinoe glycines (Ascomycota)
Struktur patogen :
Konidia hialin, askus bulat telur atau jorong, 5-6,5 µm x 2-3 µm. Selain itu terdapat aservulus pada bagian tengah bercak yang baru atau di bagian tepi bercak yang muda, aservulus berbentuk cakram atau bantal. Selain itu tanda lain patogen ini yaitu konidiofor sangat pendek dan sangat rapat sehingga sukar dibedakan satu persatu.
Gejala
Gejala penyakit ini tampak pada daun, tangkai daun, batang dan polong. Pada daun mula-mula timbul bercak kecil, bulat dengan garis tengah 1-2 mm, coklat atau coklat kemerahan. Seringkali jaringan daun di sekitar bercak menguning. Bercak sedikit demi sedikit membesar sehingga garis tengahnya mencapai 3-5 mm, kadang-kadang tampak agak bersudut. Bercak yang tua mempunyai pusat berwana kelabu atau putih kelabu dan dapat berlubang. Bercak daun terjadi pada atau sepanjang tulang daun atau tulang tengah. Pada tulang daun dan tulang tengah daun, bercak tampak seperti kanker atau kudis berwarna suram dan tampak lebih jelas pasa bagian bawah daun daripada sisi atas daun. Daun mengeriting jika terinfeksi pada waktu masih muda.
Pada batang bercak bulat atau lonjong dengan garis tengah 3-5 mm, pusatnya berwana kelabu atau putih kelabu. Seringkali bercak bersatu sehingga panjangnya bisa mencapai 1cm atau lebih, sejajar dengan sumbu batang. Bercak sering agak terangkat, suram, berwana kelabu atau putih kelabu, dan menunjukkan gejala kudis yang khas.
Gejala pada polong merupakan gejala yang paling jelas. Bercak-bercak pada polong hijau yang masih muda agak melekuk, jorong, agak bulat, atau kadang-kadang tidak teratur, ukurannya bervariasi dari satu titik sampai bergaris tengah 5-8 mm. bercak berwarna coklat tua atau coklat kemerahan dan pusatnya sering berwana kelabu jika polong menjadi masak, bercak-bercak sedikit demi sedikit terangkat dan warnanya menjadi lebih muda, yaitu kelabu atau putih kelabu.

Daur Hidup
Pemencaran patogen ini terjadi melalui air, meskipun spora mungkin dapat juga dipencarkan oleh angin. Cendawan ini dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman sakit. Diketahui bahwa penyakit kudis karena E. phaseoli pada kratok dapat bertahan pada biji. Elsinoe glycines, selain pada kacang hijau, dapat menular ke kara (Dolichos lablab) dan kacang azuki (Phaseolus angularis), meskipun tanaman-tanaman ini kurang rentan.

Kondisi yang mendukung
Elsinoe glycines umumnya hanya dapat menginfeksi jaringan muda. Periode 12 hari setelah sebar adalah masa kritis untuk terjadinya infeksi. Infeksi hanya terjadi bila cuaca lembab dengan suhu yang sesuai. Perkecambahan konidium dan penetrasi memerlukan suhu sekitar 25-280C. suhu dibawah 200C dan di atas 300C tidak cocok untuk perkembangan penyakit kudis.

Pengendalian
Pengendalian penyakit ini terdapat beberapa cara, yaitu: menggunakan varietas yang tahan bila memungkinkan, merotasikan tanah bekas tanaman kacang hijau dengan tanaman yang berbeda familinya, dan memperbaiki system drainase lahan. Selain secara teknis, pengendalian secara kimia dilakukan dengan penyemprotan fungisida.

2. Nama penyakit : Penyakit Embun Tepung (Downy Mildew)
Patogen : Oidium sp. (Deuteromycota)
Struktur patogen : Konidium berbentuk seperti rantai, hialin, terdiri 4-8 konidia
Gejala
Mula-mula pada permukaan atas daun terdapat bercak putih, yang lalu meluas sehingga dapat menutupi seluruh permukaan daun. Lebih dulu gejala tampak pada daun-daun bawah. Lapisan putih dapat juga terjadi pada batang dan polong. Lapisan putih itu adalah miselium, konidofor, dan konidium jamur. Pada serangan yang parah daun layu dan rontok. Bila serangan yang parah ini timbul sebelum pembungaan, tanaman tidak dapat membentuk polong, atau membentuk polong kecil yang menghasilkan sedikit biji yang tidak normal.

Daur Hidup
Jamur tepung dipencarkan oleh konidiumnya yang terbawa oleh angin. Oidium mempunyai banyak tumbuhan inang yang termasuk ke dalam kacang-kacangan.
Gambar Oidium sp.
Kondisi yang mendukung
Perkembangan penyakit embun tepung ini dibantu oleh udara yang sejuk (22-260C) dengan kelembaban nisbi 80-88%. Perkecambahan konidium dibantu oleh udara sejuk, lembab dan keadaan yang terlindung (teduh). Tetapi pembentukan spora dipicu oleh sinar matahari dan suhu yang agak tinggi. Keadaan kering dan banyak angin membantu pemencaran konidium. Sebaliknya hujan yang terus menerus akan menghambat perkembangan penyakit. Oleh karena itu, penyakit tepung lebih banyak terdapat pada pertanaman musim kemarau.

Pengendalian
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan terhadap penyakit embun tepung. Pengendalian secara kimia dapat diakukan dengan penyerbukan belerang dan penyemprotan fungisida ( bahan kimia dinokap dan benomyle).

3. Nama penyakit : Mosaik Kuning
Patogen : Bean yellow mosaic virus (BYMV)
Struktur patogen : Berbentuk basil lentur
Gejala
Gejala yang ditimbulkan akibat serangan patogen ini yaitu pada daunnya terdapat bercak-bercak kuning, serangan lanjut patogen ini menyebabkan daun kuning semuanya, proses asimilasi terganggu, pertumbuhan tidak normal dan menyebabkan tanaman kerdil.
Gambar gejala serangan BYMV
Selain itu, tanda lain akibat serangan Bean yellow mosaik virus ini yaitu terbentuknya badan inklusi dalam jaringan.
Gambar badan inklusi BYMV
Daur Hidup
Daur hidup virus ini yaitu virus menginfeksi sel dan bereplikasi kemudian menyebar. Virus BYMV merupakan kelompok potyvirus yang dapat ditularkan secara mekanis oleh kutu daun (Aphis sp.). Virus dapat juga terbawa pada biji tanaman yang sakit, meskipun presentasinya rendah.

Kondisi yang mendukung
Kondisi yang mendukung perkembangan patogen ini yaitu kondisi lingkungan yang lembab, suhu yang relatif rendah, serta populasi serangga vektor yang banyak.

Pengendalian
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan penanaman varietas tahan dan bebas virus, mencabut dan membakar tanaman terserang, menggunakan insektisida untuk memberantas serangga vektor di lapangan, melakukan pergiliran tanaman, mencegah dan memperhatikan bahan perbanyakan yang bebas dari penyakit ini, serta pemakaian antibiotika.

Beberapa penyakit tersebut mempunyai ciri yang berbeda-beda. Hal yang membedakannya yaitu: patogen penyebabnya, gejala yang ditimbulkan, serta cara pengendaliannya. Faktor yang mendukung penyakit yang disebabkan oleh cendawan diantaranya adalah faktor kelembaban yang berguna untuk pertumbuhan dan perkecambahan spora. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah angin yang membantu dalam penyebaran spora. Sedangkan faktor yang mendukung penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus adalah serangga vektor.
Penyakit busuk batang Sclerotium disebabkan oleh cendawan Sclerotium rolfsii. Tanaman yang terserang Sclerotium rolfsii akan menimbulkan gejala layu mendadak. Gejala lanjut penyakit ini, pada bagian pangkal batang dan di permukaan tanah sekelilingnya terdapat benang-benang miselium seperti bulu, membentuk banyak sklerotium yang semula berwarna putih, kemudian menjadi berwarna coklat, sebesar biji sawi. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan beberapa cara, diantaranya menanam varietas unggul yang resisten, melakukan desinfeksi atau mensterilkan tanah dengan uap panas atau dengan menggunakan zat kimia khusus, dan juga dengan meniadakan kontaminan pada biji-biji dengan perlakuan biji (seed treatment) dengan beberapa zat kimia. Pengendalian secara biologi juga dapat diterapkan dalam mengendalikan Sclerotium rolfsii, yakni menggunakan Trichoderma glaucum sebagai cendawan antagonis yang efektif untuk mengendalikan Sclerotium rolfsii penyebab penyakit busuk batang pada kacang hijau.
Penyakit kudis (scab) disebabkan oleh Elsinoe glycines. Gejala penyakit ini tampak pada daun, tangkai daun, batang dan polong. Pada daun mula-mula timbul bercak kecil, bulat dengan garis tengah 1-2 mm, coklat atau coklat kemerahan. Seringkali jaringan daun di sekitar bercak menguning. Bercak sedikit demi sedikit membesar sehingga garis tengahnya mencapai 3-5 mm, kadang-kadang tampak agak bersudut. Bercak yang tua mempunyai pusat berwana kelabu atau putih kelabu dan dapat berlubang. Bercak daun terjadi pada atau sepanjang tulang daun atau tulang tengah. Pada tulang daun dan tulang tengah daun, bercak tampak seperti kanker atau kudis berwarna suram dan tampak lebih jelas pasa bagian bawah daun daripada sisi atas daun. Daun mengeriting jika terinfeksi pada waktu masih muda. Pada batang bercak bulat atau lonjong dengan garis tengah 3-5 mm, pusatnya berwana kelabu atau putih kelabu. Seringkali bercak bersatu sehingga panjangnya bisa mencapai 1cm atau lebih, sejajar dengan sumbu batang. Bercak sering agak terangkat, suram, berwana kelabu atau putih kelabu, dan menunjukkan gejala kudis yang khas. Gejala pada polong merupakan gejala yang paling jelas. Bercak-bercak pada polong hijau yang masih muda agak melekuk, jorong, agak bulat, atau kadang-kadang tidak teratur, ukurannya bervariasi dari satu titik sampai bergaris tengah 5-8 mm. bercak berwarna coklat tua atau coklat kemerahan dan pusatnya sering berwana kelabu jika polong menjadi masak, bercak-bercak sedikit demi sedikit terangkat dan warnanya menjadi lebih muda, yaitu kelabu atau putih kelabu. Pengendalian penyakit ini terdapat beberapa cara, diantaranya menggunakan varietas yang tahan bila memungkinkan, merotasikan tanah bekas tanaman kacang hijau dengan tanaman yang berbeda familinya, dan memperbaiki system drainase lahan. Selain secara teknis, pengendalian secara kimia dilakukan dengan penyemprotan fungisida.
Penyakit Embun Tepung (Downy Mildew) disebabkan oleh Oidium sp.. Mula-mula pada permukaan atas daun terdapat bercak putih, yang lalu meluas sehingga dapat menutupi seluruh permukaan daun. Lebih dulu gejala tampak pada daun-daun bawah. Lapisan putih dapat juga terjadi pada batang dan polong. Lapisan putih itu adalah miselium, konidofor, dan konidium cendawan. Pada serangan yang parah daun layu dan rontok. Bila serangan yang parah ini timbul sebelum pembungaan, tanaman tidak dapat membentuk polong, atau membentuk polong kecil yang menghasilkan sedikit biji yang tidak normal. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan terhadap penyakit embun tepung. Pengendalian secara kimia dapat diakukan dengan penyerbukan belerang dan penyemprotan fungisida ( bahan kimia dinokap dan benomyle).
Penyakit mosaik kuning disebabkan oleh Bean yellow mosaic virus (BYMV). Gejala yang ditimbulkan akibat serangan patogen ini yaitu pada daunnya terdapat bercak-bercak kuning, serangan lanjut patogen ini menyebabkan daun kuning semuanya, proses asimilasi terganggu, pertumbuhan tidak normal dan menyebabkan tanaman kerdil. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan penanaman varietas tahan dan bebas virus, mencabut dan membakar tanaman terserang, menggunakan insektisida untuk memberantas serangga vektor di lapangan, melakukan pergiliran tanaman, mencegah dan memperhatikan bahan perbanyakan yang bebas dari penyakit ini, serta pemakaian antibiotika.
Dari keempat penyakit di atas, penyakit yang sulit dikendalikan adalah penyakit mosaik kuning disebabkan oleh Bean yellow mosaic virus (BYMV), karena penyakit ini disebarkan oleh serangga vektor, sehingga penyebarannya sangat cepat.

BAB III
KESIMPULAN

Serangan penyakit pada kacang hijau sering menimbulkan kerugian bagi para petani, diantara penyakit – penyakit kacang hijau yang sering menyerang adalah penyakit busuk batang Sclerotium, penyakit kudis, penyakit embun tepung, dan penyakit mozaik kuning. Untuk melindungi tanaman agar tidak terserang penyakit tersebut harus mengenal gejala serangan, jenis patogen, siklus hidup, dan cara penyebaran serta cara pengendaliannya. Dari keempat penyakit tersebut mempunyai gejala dan pengendalian yang berbeda, karena disebabkan oleh patogen yang berbeda-beda.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Yogyakarta: UGM Press.
Djafaruddin. 2004. Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara.
Kunkel, L. O. . 1964. Plant Virology. Edited by: M. K. Corbett and H. D. Sisler. 1967. Florida: University of Florida Press Book.
Matnawy, Hudi. 1991. Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Yudiarti, Turrini. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
www.puslittan.bogor.net

LAPORAN ILMUPENYAKIT TUMBUHAN DASAR
Uji Postulat Koch Xanthomonas campestris pv. oryzae Penyebab Hawar Daun Bakteri pada Padi

Oleh :
Cut Putri Ade Safrina A34080002
Fitri Fatma Wardani A34080005
Siti Syarah Maesyaroh A34080010
Syaiful Khoiri A34080069
M. Prio Santoso A34080081

Dosen Pembimbing:
Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc.
Dr. Ir. Widodo, M. Si

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit tanaman adalah suatu keadaan dimana tumbuhan mengalami gangguan fungsi fisiologis secara terus menerus sehingga menimbulkan gejala dan tanda. Gangguan fisiologis ini disebabkan oleh faktor biotik (bakteri, cendawan, virus dan nematoda) maupun faktor abiotik (suhu, kelembaban, unsur hara mineral) (Agrios, 1996). Salah satu cara mengetahui faktor biotik apa yang menyebabkan penyakit dilakukan suatu kegiatan berdasarkan Postulat Koch.
Postulat Koch dikemukakan pertama kali oleh Robert Koch (1843-1910). Koch memberikan rumusan berupa sejumlah kondisi yang harus dipenuhi sebelum salah satu faktor biotik (organisme) dianggap sebagai penyebab penyakit. Rumusan tersebut dikenal dengan Postulat Koch (Koch’s Postulates). Dalam Postulat Koch disebutkan, untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebab penyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat. Pertama, organisme selalu berasosiasi dengan inang dalam semua kejadian penyakit. Kedua, organisme (patogen) dapat diisolasi dan dikulturkan menjadi biakan murni. Ketiga, hasil isolasi saat diinokulasikan pada tanman sehat akan menghasilkan gejala penyakit yang sama dengan tanaman yang telah terkena penyakit. Keempat, dari tanaman yang telah diinokulasi didapatkan hasil isolasi yang sama dengan hasil isolasi yang pertama.
Postulat Koch ini hanya dapat digunakan dalam pembuktian jenis patogen yang bersifat tidak parasit obligat. Parasit obligat adalah parasit yang tidak dapat hidup tanpa ada inangnya. Oleh karena itu, patogen parasit obligat tidak dapat dibiakan dalam laboratorium.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membuktikan jenis patogen yang menyebabkan suatu penyakit melalui teknik-teknik yang terdapat dalam Postulat Koch.

BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Postulat Koch adalah tabung reaksi, cawan petri, jarum ose, gunting, alat suntik, pinset, erlenmeyer, dan laminar flow. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah tanaman padi yang terserang bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae, tembakau (Nicotiana tabacum), media YDCA, media PDA, media NA, alkohol 70%, air steril, klorox, dan kapas atau tissue steril.

2.2 Metode
Isolasi (Metode Penanaman)
Metode isolasi patogen Xanthomonas campestris pv. oryzae yaitu dengan menyiapkan daun padi yang menunjukkan gejala hawar. Usap kedua permukaan daun dengan kapas atau kertas tissue yang telah dibasahi dengan alkohol 70% dan biarkan sisa-sisa alkohol yang menempel menguap. Setelah kedua permukaan daun steril, potong jaringan daun yang sebagian menunjukkan gejala dan bagian lainnya tidak.
Ambil potongan daun tersebut dengan pinset yang telah dipanaskan. Celupkan potongan daun tersebut ke dalam tabung reaksi yang berisi klorox kemudian masukkan ke tabung reaksi yang berisi air steril. Setelah itu letakkan potongan daun ke dalam media YDCA dengan susunan seperti gambar

Setelah diinkubasi selama 4 hari maka akan muncul koloni bakteri yang berwarna kuning. Agar koloni menjadi tunggal maka dilakukan metode penggoresan dengan teknik kuadran dengan langkah-langkah, ambil satu lup koloni dengan lup yang steril kemudian goreskan pada media YDCA. Panaskan kembali lup dan goreskan lagi pada media tersebut, dan seterusnya dengan penggoresan dengan metode kuadran.

Pemurnian
Pemurnian dilakukan supaya diperoleh biakan murni dari Xanthomonas campestris pv. oryzae. Karena dalam tahap isolasi terdapat kemungkinan biakan akan terkontaminasi. Prinsip metode pemurnian sama dengan metode yang digunakan dalam mendapatkan koloni tunggal, yaitu menggunakan metode penggoresan dengan teknik kuadran.

Inokulasi
Inokulasi dilakukan setelah didapatkan biakan murni dari metode pemurnian. Metode inokulasi yang digunakan dalam menginokulasikan Xanthomonas campestris adalah metode pengguntingan. Langkah-langkah metode pengguntingan yaitu pertama ambil satu koloni tunggal X. campestris dan masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air steril dan kocok sampai X. campestris tersebut membelah diri. Masukkan gunting yang telah disterilkan ke dalam suspensi selama beberapa menit. Lakukan pengguntingan pada tanaman sehat dan tunggu sampai beberapa hari hingga gejala muncul.

Uji Patogenisitas
Uji patogenisitas adalah suatu uji yang digunakan untuk mengetahui kemampuan patogen dalam menimbulkan penyakit. Uji ini dilakukan pada tanaman tembakau dengan metode penyuntikan. Seperti halnya dengan metode inokulasi, sebelum dilakukan penyuntikan dilakukan pembuatan suspensi X. campestris. Penyuntikan dikhususkan pada tulang daun, karena di tulang daun ini terdapat jaringan pembuluh sehingga diharapkan suspensi dapat menyebar ke seluruh jaringan daun.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan
Isolasi
Gambar di samping adalah koloni bakteri X. campestris yang diisolasi dari tanaman padi yang mempunyai gejala hawar. Koloni tersebut didapatkan setelah dilakukan permurnian beberapa kali. Koloni berwarna kuning, berlendir dan berbau tidak enak.

Koloni tunggal X.campestris
Inokulasi

Gejala hawar muncul setelah mengalami inkubasi selama 8 hari. Gejala ini mirip dengan gejala pada tanaman sakit.

Reisolasi

Koloni yang didapatkan dari tanaman yang telah diinokulasi

Uji Patogenesitas
Uji payogenesis dilakukan inokulasi suspense Xanthomonas oryzae pada tanaman tembakau dengan cara penyuntikan. Namun. tidak terbentuk gejala pada daun yang disuntik selama waktu inkubasi.

3.2 Pembahasan
Postulat Koch merupakan metode yang dapat diaplikasikan terhadap penyakit virus untuk menunjukkan bahwa patogennya adalah virus atau bahwa virus adalah patogenik, akan tetapi postulat tersebut harus didefinisikan kembali sebagai berikut : (1) patogen harus menyertai penyakit, (2) patogen harus dapat diisolasi dari tumbuhan yang sakit dengan syarat terpisah dari kontaminan, memperbanyak diri dalam inang perkembangbiakan, dapat dimurnikan secara fisiko kimia, serta dapat diidentifikasi sifat-sifatnya yang hakiki, (3) apabila diinokulasikan ke dalam tumbuhan inang yang sehat, harus dapat menghasilkan kembali penyakit serupa, (4) patogen yang sama harus dapat ditunjukkan ada di dalam tumbuhan percobaan dan harus dapat diisolasikan kembali (Bos, 1990).
Teknik Postulat Koch meliputi empat tahapan, yaitu asosiasi, isolasi, inokulasi, dan reisolasi. Asosiasi yaitu menemukan gejala penyakit dengan tanda penyakit (pathogen) pada tanaman atau bagian tanaman yang sakit. Isolasi yaitu membuat biakan murni pathogen pada media buatan (pemurnian biakan). Inokulasi adalah menginfeksi tanaman sehat dengan pathogen hasil isolasi dengan tujuan mendapatkan gejala yang sama dengan tahap asosiasi. Reisolasi yaitu mengisolasi kembali patogen hasil inokulasi untuk mendapatkan biakan patogen yang sama dengan tahap isolasi.
Berdasarkan perlakuan dan percoban pembuktian postulat Koch pada tanaman padi. Dapat dijelaskan bahwa tahapan-tahapan postulat Koch sudah terpenuhi. Pertama, tahap asosiasi. Tahap asosiasi ini kaitannya dengan hubungan patogen dengan inang, dalam hal ini patogen Xanthomonas campestris pv. oryzae harus mempunyai hubungan dengan tanaman padi yang mempunyai gejala hawar daun.
Kedua, tahap Isolasi. Tahap kedua mengambil patogen (Xanthomonas campestris pv. oryzae) kemudian menumbuhkannya dalam media selektif (YDCA) di peroleh biakan murni. Tahap ini diperoleh biakan bakteri Xanthomonas pv. oryzae yang berwarwa kuning, mengkilat, permukaan licin dengan lender. Meskipun pada tahap ini sering terjadi pengulangan karena kesulitan dalam membiakkan biakan murni karena terjadinya kontaminasi yang disebabkan oleh kurangnya kemampuan meremajakan biakan dalam cawan.
Ketiga, tahap Inokulasi. Sebelum dilakukan inokulasi patogen terhadap tanaman padi, dilakukan uji patogenesitas patogen pada tanaman tembakau. Pada uji patogenesitas, tanaman tembaka tidak menampakkan gejala penyakit hawar daun selama inkubasi. Hal ini disebabkan karena Xanthomonas campestris pv. oryzae bersifat spesifik pada tanaman padi sehingga pada tanaman tembakau yang berbeda famili tidak mampu menyerangnya. Inokulasi dilakukan setelah tanaman padi siap dengan teknik pengguntingan. Hasil yang di peroleh setelah masa inkubasi, nampak gejala hawar yang diawali pada bagian dekat tempat inokulasi. Hal ini isebabkan karena Xanthomonas campestris pv. oryzae menginfeksi bagian tersebut kemudian menyebar karena populasi yang bertambah banyak. Sehingga gejala yang ditimbulkan akibat serangan Xanthomonas campestris pv. oryzae meluas.
Keempat, tahap Reisolasi. Pada tahap ini dilakukan isolasi kembali patogen penyebab hawar daun pada tanaman padi yang menunjukkan gejala hawar karena hasil inokulasi Xanthomonas campestris pv. oryzae hasil isolasi sebelumnya. Hasil dari reisolasi meunjukkan bahwa biakan murni yang dihasilkan sama dengan hasil biakan murni isolasi yang pertama. Tahapan-tahpan dalam postulat Koch telah dilaksanakan sesuai dengan metode sehingga dapat dikatakan bahwa praktikum ini berhasil.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Postulat Koch dapat digunakan untuk membuktikan ada tidaknya agen infeksius misalnya Xanthomonas campestris pv. oryzae pada tanaman padi yang menampakkan gejala hawar daun. Keempat tahapan Postulat Koch harus dapat dipenuhi untuk menentukan hubungan sebab akibat antara bakreri dan penyakit yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil perlakuan pengujian Postulat Koch pada tanaman padi untuk bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae berhasil dilakukan.

4.2 Saran
Secara keseluruhan praktikum ini sudah sesuai dengan tujuannya, namun ada beberapa hal yang mungkin masih perlu diperbaiki yakni penggunaan media yang selektif pada saat peremajaan agar tidak terjadi kontaminasi yang parah. Misalnya penggunaan media YDCA untuk Xanthomonas campestris pv. oryzae. Selain itu, kesesuaian jadwal asistem praktikum dengan praktikannya supaya kegiatan peremajaan dapat dilakukn sesuai dengan metode.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios G N. 1996. Plant Pathology. Gainesville: University of Florida.
Bos, L. 1990. Pengantar Virologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Shurtleff, M.C. and C.W. Averre III. 1997. The Plant Disease Clinic and Field Diagnosis of Abiotic Diseases. St. Paul, Minn: APS Press.
Streets, R.B. 1972. Diagnosis of Plant Diseases. Tuscon:The University of Arizona Press.